| TinTin |
![]() |
| Rini Sugianto. courtesy : dari blognya rini |
Awalnya Pak bowo dari BPPT menghubungi kami team ayena studio untuk datang menghadiri sebuah forum yang diadakan oleh KEMPERIN (kementrian perindustrian) forum tersebut isinya adalah berbagi pengalaman dari seorang Rini Sugianto yang sudah bekerja di Luar dengan hasil karya yang cukup baik dan kaitannya dengan industri di indonesia, apakah nantinya industri animasi di indonesia akan berkembang seperti di luar sana dan apa sajakah yang harus dibangun di indonesia untuk hal tersebut, juga apa yang harus dilakukan oleh SDM nya yaitu animator. saya hadir bersama rekan-rekan dari CCA, karena ternyata undangan pun ada juga ke CCA, akhirnya kita pergi bareng deh, saya, kang irvan, kang gusti dan founder komunitas 3dmax indonesia kang harry. Saya juga ketemu sama mas pur.. koordinator program D1 FSRD ITB. yah ketauan deh ga kuliah.. gapapa ya mas yang penting ilmu nya saya dapet dan bisa saya share ntar di kampus waahhahaha.
diskusi pun dimulai, ini adalah forum tertutup, sehingga yang menghadiri forum tidak terlalu banyak, hanya sepenuh meja rapat saja, rini mulai dengan memperkenalkan dirinya, dia mulai menceritakan bagaimana ia bisa terjun ke industri animasi di luar, ternyata rini sugianto ini adalah lulusan UNPAR bandung jurusan arsitektur, dan belajar animasi baru di luar negeri, saat ini rini bekerja di newzeland untuk WETA studio, yaitu salah satu studio animasi terkenal disana. untuk melihat hasil karya Rini Sugianto kamu bisa cek di www.triyani.com kalian gak bakalan percaya nih kalau orang indonesia juga ternyata ikut terlibat di beberapa film besar seperti TinTin, The avengers, Iron Man dsb.
Rini pun berbagi tentang sistem / pipeline pengerjaan animasi di Luar, berbeda dengan di indonesia, rata-rata yang disebut animator adalah generalist bukan specialist, artinya animator di indonesia masih banyak yang mengerjakan model, lighting sampai ke animate sendirian sehingga fikiran terpecah dan hasilnya mungkin kurang maksimal, sementara di luar semua itu dikerjakan secara spesialist, contohnya Rini hanya mengerjakan bagian animasi, yaitu menggerakan model/karakter yang sudah ada, yang sudah dibikin sama team yang lainnya. Kayak dokter, ada spesialist mata, kandungan, gigi, bedah dan lain-lain, harusnya di indonesia seperti itu khusus untuk para pekerja teknisnya, jadi hasil yang didapatkan dapat maksimal, gak mungkin kan dokter mata ikut praktik juga di kandungan :p.
Tahukah anda? untuk meng-animate Snowy (anjingnya tintin) rini harus bekerja selama kurang lebih setahun untuk 7 menit animasi saja.
Saat ini pun saya masih bekerja pada sistem yang salah, saya bisa 3d modeler, animate juga bisa, riging bisa walau gak begitu menguasai. mungkin seharusnya saya hanya ada pada lingkup animator saja, karena basic saya sebenarnya ada di situ, selain itu animator itu banyak yang nyari loh.. gak banyak yang menguasai seni gerak tubuh, itu sangat sulit tapi mudah jika kita mau belajar :). Rini juga mengomentari tentang ANIMATOR yang selalu dibicarakan di indonesia, kalau di indonesia animator itu yg jago 3d modeler, yang jago lighting, yang jago animasi juga. Tapi ternyata tidak.. animator kalau di Luar itu ya seseorang yang berprofesi untuk mengerjakan gerak tubuh karakter atau model yang sudah disiapkan, untuk 3d model ya bukan animator tapi dia adalah sebatas 3d arttist saja, lighting artist pun sama.
Tahukah anda? Gaji animator di luar bisa mencapai angka $20 perjam, (rini belum terbuka masalah gajinya disana, tapi yang pasti yang dibayarkan untuk salary adalah yang dikerjakan)banyak pengalaman yang saya dapatkan dan mungkin akan mengubah cara pandang saya terhadap industri animasi, atau bahkan dapat mengubah pola kerja saya, dan saya harus memilih harus berada di jalur yang mana. Terima kasih atas berbagi pengalamannya Rini Sugianto, saya sangat senang ada orang seramah, secerdas anda dan mau berbagi ilmu dengan yang lainnya juga.
| Foto bersama Rini Sugianto |

keren..!! memang animasi di indo begitu.. biar hemat biaya.. hehe
BalasHapusbanyak yang menkondisikan hal itu terjadi di indonesia, minimnya budget akhirnya memaksa menuntut artist supaya jadi superman (sagala bisa) padahal kalau di luar indonesia itu menjadikan tidak profesional. klien di indonesia pun sebagian masih mengganggap memproduksi animasi seperti buat sinetron bisa diajak streaming. bahkan biaya produksinyapun dianggap sama.
BalasHapuskalaupun kita siap dengan sisi profesionalitasnya ? apakah klien bisa bersabar ? apakah hasil kerja kita berbanding lurus dengan materi yang akan dihasilkan ?
yang ada sekarang cuma strategi mengkolaborasikan itu semua dan supaya semua senang dan cukup layak untuk ditonton.... sing sabar we nya heheheh